Konsep Dasar Elysia-Light

Elysia-Light hadir sebagai fondasi backend yang dirancang untuk mempercepat pembangunan API dan service yang bersifat repetitif, tanpa menghilangkan fleksibilitas dan kendali penuh terhadap arsitektur sistem. Tujuan utamanya adalah membantu developer fokus pada alur bisnis dan keputusan teknis penting, bukan pada boilerplate yang terus berulang di setiap project.

Mengurangi Pekerjaan Repetitif di Backend

Dalam pengembangan backend, banyak pola yang hampir selalu terulang: membuat endpoint API, validasi request, middleware auth, query database, logging, queue, cron, hingga error handling. Elysia-Light merangkum kebutuhan umum tersebut ke dalam utility dan pattern yang konsisten sehingga fitur backend dapat dibangun lebih cepat dan lebih rapi tanpa menulis ulang fondasi yang sama.

Konsistensi Alur dan Struktur Kode

Selain kecepatan, Elysia-Light menjaga konsistensi alur request, struktur folder, dan pola penulisan kode. Dengan pola yang seragam, setiap endpoint, middleware, dan service memiliki bentuk yang mudah dikenali. Hal ini mempermudah kolaborasi tim, mempercepat onboarding developer baru, dan mengurangi perbedaan gaya implementasi antar modul.

Struktur dan Pola Kerja yang Terarah

Elysia-Light tidak hanya menyediakan utility, tetapi juga memberikan arahan cara menyusun backend yang mudah dirawat dan mudah di-scale. Struktur project dan pattern yang digunakan dirancang agar tetap relevan sejak project kecil hingga berkembang menjadi sistem yang lebih kompleks.

Lebih dari Sekadar Starter Backend

Elysia-Light bukan hanya alat untuk memulai backend dengan cepat. Ia adalah pendekatan kerja yang membawa filosofi: ringan, eksplisit, production-minded, dan scalable by pattern. Utility yang disediakan membantu menyelesaikan kebutuhan umum, namun tetap memberi ruang untuk membangun solusi custom ketika kompleksitas meningkat.

Cara Kerja Elysia-Light Secara Low-Level

Di balik kemudahan penggunaannya, Elysia-Light memiliki mekanisme internal yang membuatnya tetap ringan namun siap untuk production. Beberapa konsep low-level yang bekerja di dalamnya antara lain:
  • Request Lifecycle yang Jelas — Setiap request melewati alur yang eksplisit: middleware, validasi, handler, hingga response. Tidak ada proses tersembunyi yang sulit ditelusuri.
  • Controller & Handler Pattern — Endpoint API dibangun dengan pola controller yang konsisten, memisahkan logika bisnis dari detail routing agar kode lebih bersih dan terorganisir.
  • Utility yang Composable — Utility dirancang agar bisa digunakan sebagian atau digabungkan sesuai kebutuhan, bukan sebagai lapisan kaku yang harus selalu dipakai utuh.
  • Integrasi Infrastruktur Sejak Awal — Logging, database, cache, queue, cron, dan OLAP diperlakukan sebagai bagian inti sistem, bukan tambahan opsional di akhir pengembangan.
  • Minim Abstraksi Berlebihan — Sebagian besar fitur hanyalah wrapper tipis di atas Elysia dan tooling terkait, sehingga performa dan perilaku sistem tetap mudah dipahami.
  • Konsistensi Struktur Project — Dengan pattern yang dijaga, struktur folder dan penempatan kode menjadi lebih konsisten antar project, memudahkan maintenance jangka panjang.
Dengan pendekatan ini, Elysia-Light tidak hanya mempermudah di level penggunaan, tetapi juga menjaga fondasi backend tetap stabil, transparan, dan siap berkembang seiring bertambahnya kompleksitas sistem.

Microservice Built-in dengan Isolated Runtime

Elysia-Light sudah mengakomodasi kebutuhan microservice umum seperti cron job, queue worker, dan real-time socket tanpa harus membangun project terpisah. Namun penting untuk dipahami: meskipun berada dalam satu codebase, setiap service berjalan pada runtime worker yang terisolasi.

Pendekatan ini membuat Elysia-Light tetap terasa seperti satu sistem yang utuh dari sisi developer experience, tetapi berperilaku seperti arsitektur microservice dari sisi eksekusi dan reliability.

  • Cron Job sebagai Worker Mandiri — Proses scheduled task tidak dijalankan di dalam lifecycle HTTP server. Cron berjalan sebagai runtime terpisah, sehingga task berat atau periodik tidak memblokir request utama.
  • Queue Worker yang Terisolasi — Proses async seperti pengiriman email, notifikasi, atau data processing dieksekusi oleh worker queue sendiri. Jika worker gagal atau overload, API utama tetap berjalan normal.
  • Socket & Realtime Service Independen — Layanan websocket atau realtime tidak bercampur dengan proses HTTP request. Scaling dan tuning bisa dilakukan tanpa mempengaruhi performa endpoint API.
  • Satu Codebase, Banyak Entry Point — Setiap service memiliki entry point runtime masing-masing, namun tetap berbagi konfigurasi, utility, dan domain logic yang sama.
  • Failure Tidak Menular — Crash pada cron, queue, atau socket tidak otomatis menjatuhkan aplikasi utama. Isolasi runtime menjaga sistem tetap stabil di kondisi production.

Dengan model ini, Elysia-Light tidak memaksa developer memilih antara monolith atau microservice sejak awal. Project bisa dimulai sebagai satu sistem terpadu, lalu tumbuh secara bertahap dengan isolasi worker yang jelas tanpa refactor besar.